Feeds:
Posts
Comments

Tercatat dalam buku resolusi saya, ternyata sejak tahun 2008 saya sudah menuliskan keinginan untuk mengikuti kelas persiapan TOEFL. Kalau diingat tahun itu merupakan tahun pertama saya memulai pekerjaan pertama di ibukota Jakarta, usai meraih gelar S1 dari UNSRAT Manado. Keinginan untuk mendapatkan sertifikat TOEFL ini tak lain adalah karena cita-cita lama saya yang ingin bersekolah di luar negeri. Entah pastinya kapan saya mulai mendapatkan ide ini. Namun, seingat saya ketika Facebook dan Friendster sedang booming tahun itu, keinginan saya menjadi semakin kuat ketika melihat beberapa posting-an teman dan senior saya yang tinggal dan bersekolah di luar negeri.

Berbagai upaya pun telah saya lakukan sejak tahun itu, diantaranya membeli buku-buku persiapan TOEFL, ikut kelas persiapan TOEFL di LIA (Slipi dan Pramuka), serta rajin meng-update info tentang education fair dan milis beasiswa melalui email dan medsos. Oh ya, satu lagi saya ingat saya pun beberapa kali mengikuti kegiatan di @AMERICA di Pacific Place Jakarta. Namun dari banyaknya upaya yang telah saya lakukan, saya baru benar-benar memberanikan diri untuk  mengajukan aplikasi beasiswa Fulbright Aminef pada tahun 2012. Meski saya sudah tahu bahwa saya akan gagal karena score TOEFL saya tidak mencukupi, namun saya tetap melakukannya dan menjadikannya pengalaman dalam proses pengajuan beasiswa.

Menikah dan Menjadi Ibu Bukan Halangan Untuk Belajar

Usai menikah tahun 2015, ternyata keinginan saya untuk belajar tetap ada. Saat itu saya menyempatkan untuk kursus bahasa Inggris di LIA Kelapa Gading dan bahkan saat hamil saya sempat mengikuti kelas persiapan TOEFL di LBP UI hanya sekedar untuk mengisi waktu luang setelah resign dari pekerjaan dan dalam persiapan keberangkatan ke London Inggris. Ya benar, saat itu saya dan suami dalam masa persiapan keberangkatan untuk studi S3 di UK, tentunya bukan saya yang menjadi siswanya, hehe… Saya sangat beruntung memiliki pasangan yang mempunyai passion yang sama dengan saya.

Prioritas hidup pun berubah ketika saya memiliki anak. Dalam waktu 24 jam saya dan suami akhirnya harus berbagi waktu untuk mengurus anak kami yang lahir hanya dalam kurun waktu 1 bulan setiba kami di London. Namun ketika anak kami telah berusia 1 tahun, saya akhirnya kembali memikirkan keinginan untuk mendapatkan pengalaman belajar di luar negeri. Pikir saya, “sudah di luar negeri masa tidak ada ilmu yang bisa dibawa pulang,” setidaknya kemampuan bahasa Inggris saya semakin terasah dengan berkomunikasi secara formal dalam ruang kelas.

Kursus Bahasa Inggris di London

Saya pun mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas percakapan dan menulis bahasa Inggris (ESOL) di salah satu College yang lokasinya tak jauh dari rumah kami saat itu. Pengalaman 1 term belajar cukup mengasah kemampuan berpikir saya dalam bahasa Inggris dan sambil belajar beradaptasi dengan budaya London yang jauh dari pikiran saya sebelumnya tentang penduduk yang mayoritas saat ini sudah bukan asli lokal British. Dalam artian, sejak tahun 1970-an sebenarnya imigrasi besar-besaran Commonwealth countries telah terjadi di Inggris (ex: pendatang dari India, Afrika, Pakistan). Bahkan sejak tahun 1999 di mana dampak dari globalisasi telah membuat jumlah pendatang dari China dan Timur Tengah semakin banyak.  Bahkan juga santer dikabarkan mereka yang tengah menjadi penguasa bisnis-bisnis besar dan pemilik aset di kawasan Mayfair London Inggris ini adalah para pebisnis dari Timur Tengah dan China tersebut.

Meski telah mendapatkan pengalaman belajar bahasa Inggris dari native speaker dan memiliki beberapa teman kelas yang merupakan orang Turkish, Russian, Polish, Arabian, ataupun Chinese, namun saya sadari hal itu tidak cukup. Saat itu saya kembali memikirkan keinginan untuk melanjutkan studi akademik saya ke jenjang Strata 2 (S2). Saya sadari langkah pertama yang harus saya lakukan adalah mendapatkan sertifikat IELTS berhubung standar penilaian ini yang lebih diterima di universitas-universitas Inggris, dan ini cukup berbeda dengan universitas Amerika yang lebih menerima sertifikasi TOEFL.

Kelas Persiapan IELTS Pertama

Akhirnya pada awal tahun 2018 saya mulai mencari kelas persiapan IELTS, dan saat itu saya mendapati Milner School of English Wimbledon. Sedikit review tentang tempat kursus ini, secara overall saya puas dengan pengajaran oleh Mr Damian di kelas IELTS, di mana metode belajarnya sangat kreatif dan membuat saya paham tentang trik dalam tes writing, speaking, listening dan reading. Dan sedikit berbagi informasi, beberapa teman saya yang datang dari Arab, Italia, dan Korea saat itu sengaja datang ke London hanya untuk mengikuti kursus persiapan IELTS ini. Jadi sangat dimungkinkan bagi teman-teman yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris-nya dengan datang langsung ke Inggris dan mengikuti tes disini. Untuk biaya saat itu yang saya keluarkan sebesar 1.200 poundsterling atau sekitar 22 juta rupiah untuk kursus selama 7 weeks (15 hours per week), dan sudah termasuk biaya pendaftaran maupun biaya satu kali tes IELTS beserta sertifikat IELTS dari British Council. Selain itu jika teman-teman membutuhkan akomodasi selama kursus, di Milner juga menawarkan beberapa student housing yang bisa dilihat di website-nya www.milnerschool.co.uk.

Sayangnya meski saya sudah mengikuti kelas persiapan IELTS namun bukan jaminan bagi saya untuk bisa langsung lulus tes. Apalagi ini adalah percobaan pertama saya ditambah saya tidak punya banyak waktu luang untuk belajar sendiri di rumah berhubung harus mengurus anak saya yang masih berusia 1.5 tahun saat itu. Terkadang kalau dipikir saat ini, tindakan saya saat itu untuk mulai berusaha mengikuti kursus merupakan tindakan yang cukup nekat. Karena tentunya selain mengurus anak sendiri di tanah perantauan London, saya harus mengerjakan pekerjaan rumah, memasak dan mengurus keperluan suami yang juga sementara studi.

Perjalanan Tes IELTS Hingga 4 Kali

Sungguh bukan merupakan prestasi dan saya berharap teman-teman yang juga memiliki impian untuk kuliah di luar negeri tidak perlu sampai 4 kali tes IELTS seperti yang terjadi kepada saya hehe…

Seperti yang sudah sampaikan sebelumnya, tes IELTS pertama saya berlangsung di London pada bulan Mei 2018. Ada beberapa hal dari kegagalan saya yang bisa menjadi pelajaran buat teman-teman yang membaca artikel ini. Pertama, 7 minggu persiapan selama di kelas saja itu tidak cukup untuk level bahasa Inggris yang masih intermediate seperti saya. Apalagi berbeda dengan TOEFL yang menggunakan metode multiple choice, di IELTS, score bisa menjadi rendah hanya karena spelling / pengejaan kata yang tidak benar dalam pertanyaan seperti filling the blank.

Kesalahan kedua yang saya lakukan dalam tes adalah saya mengkonfimasi pertanyaan penguji hingga 3 kali saat tes speaking berlangsung. Ini adalah kesalahan terbesar saya. Sebenarnya bukan karena saya tidak jelas mendengar pertanyaannya, tapi karena saya berpikir saat itu pertanyaannya tidak masuk logika. Padahal itulah trik dari part 2 dan part 3 IELTS Speaking. Seharusnya walaupun tidak yakin dengan pertanyaan penguji, cobalah menjawab dengan apapun yang ada di pikiran kita saat itu.

Dan yang terakhir kadang persiapan sudah baik dan kita sudah cukup siap, tapi venue tes yang tidak mendukung. Seperti yang terjadi saat itu, venue tes berlangsung di salah satu high school di kawasan Wimbledon oleh pelaksana tes yang bekerjasama dengan Milner School. Berhubung hall yang digunakan cukup besar, audio speaker pada saat listening cukup menggema dan sangat mengganggu ketika kita harus dituntut fokus saat ujian berlangsung. Beberapa teman yang juga ikut tes saat itu sudah mengirimkan laporan melalui email kepada penyelenggara tes, namun tentunya tidak bisa mengubah hasil tes.

 

TES I

Tempat Tes : Wimbledon, UK

Tempat Kursus: Millner School Wimbledon

Tanggal Tes: 05/05/2018

Listening : 5.5

Reading : 6.5

Writing : 6.0

Speaking : 5.5

Overall : 6.0

 

TES II

Tempat Tes: IDP Kelapa Gading

Tempat Kursus: Specta Education

Tanggal Tes : 08/09/2018

Listening : 6.0

Reading : 6.5

Writing : 6.0

Speaking : 6.0

Overall : 6.0

 

TES III

Tempat Tes : IDP Kelapa Gading

Tempat Kursus : IDP Kelapa Gading

Tanggal Tes : 13/10/2018

Listening: 6.0

Reading : 5.5

Writing : 6.0

Speaking : 5.5

Overall : 6.0

 

TES IV

Tempat Tes: IDP Kuningan

Tempat Kursus : Private

Tanggal Tes : 09/03/2019

Listening 6.5

Reading 6.5

Writing 6.0

Speaking 6.5

Overall 6.5

 

Seperti yang dilihat dari informasi di atas, tes ke-2 hingga ke-4 saya berlangsung di Indonesia. Jarak antara tes kedua dan ketiga hanya berkisar 1 bulan, dan ini adalah suatu kesalahan. Walaupun memang kalo dilihat score saya pada tes kedua sebenarnya sudah sangat mendekati (tidak ada yang fail/5.5). Namun sayangnya overall score yang dibutuhkan untuk pengajuan beasiswa dan LOA universitas jurusan yang saya inginkan adalah 6.5 dengan masing-masing kategori minimal 6.

Gagal Tes, Jangan Gegabah Langsung Tes Lagi!

Dengan alasan score yang sudah nyaris sesuai target ini pula yang membuat saya menjadi terburu-buru untuk langsung mengikuti tes yang ketiga. Sayangnya pemikiran ini dinilai banyak orang adalah tindakan yang keliru. Saya kemudian mengingat beberapa pengajar IELTS menyatakan bahwa untuk menaikan score 0.5 dibutuhkan setidaknya waktu 3 bulan belajar secara intens soal-soal IELTS. Tentunya juga tergantung level kemampuan belajar dan kondisi kesibukan kita. Namun jika seorang full time mommy seperti saya, atau karyawan kantoran yang tidak punya cukup waktu luang, memang baiknya harus memikirkan waktu persiapan yang lebih lama namun konsisten setiap hari untuk latihan soal IELTS, misalnya latihan minimal 2 jam dalam sehari. Tapi kalo tetap ngotot seperti saya, seperti dapat dilihat di tabel, nilai IELTS saya bukan naik malah jadi merosot di part reading dan speaking-nya meski nilai overall tetap 6.

Selain itu saya sadari salah satu faktor yang juga membuat saya tidak berhasil mendapatkan score yang saya inginkan di tes IELTS ketiga saya adalah karena jam istirahat saya yang tidak cukup. Saya ingat semalam sebelum tes, saya tidak bisa tidur pulas karena anak saya saat itu rewel semalaman dan berhubung saya masih menyusui, saya akhirnya harus terjaga hingga dini hari. Alhasil, pagi hari saat pelaksanaan tes kepala saya jadi pusing dan sulit sekali untuk fokus, apalagi pada saat harus membaca dengan cepat dan teliti terhadap soal reading IELTS.

Usai tes saya pun tidak mau menyalahkan keadaan saya, karena pasti para pembaca artikel ini pun akan bilang “udah tau punya baby kok masih niat belajar!” Sebenarnya alasan utama saya memiliki keinginan untuk melanjutkan studi adalah selain untuk mengejar impian lama saya seperti yang saya telah ceritakan sebelumnya, namun juga ini adalah cara “me time” diri saya. Saya yakini saya bisa membahagiakan anak dan suami saya ketika saya pun cukup bahagia dengan diri saya. Lagi pula komitmen studi saya rasa tidak seberat para ibu yang full time bekerja, sehingga pilihan ini menjadi keputusan terbaik saya saat ini meski harus didapat dengan melalui berbagai tantangan.

Review: SPECTA, IDP Kelapa Gading dan IDP Kuningan atau Private Course?

Dari ketiga lokasi tempat kursus persiapan IELTS di Jakarta, ada beberapa review yang ingin saya bagikan. Pertama, SPECTA Education Kelapa gading. Metode belajar di tempat kursus ini terbilang cukup simple namun efektif. Awalnya saya rasa kok kursusnya hanya latihan-latihan soal IELTS di kelas saja, apa bedanya saya latihan di rumah dengan soal-soal dari buku atau video. Padahal selama kursus 4 minggu disini saya harus mengeluarkan uang sebesar 6 juta rupiah. Memang selama saya mengikuti kursus di tempat ini, hanya kelas writing yang diberikan feedback langsung hasil tulisan kita dan kelas speaking yang mengasah kita berdialog dengan topik tertentu dalam waktu yang telah ditentukan. Namun untuk kelas listening dan reading hanya berupa simulasi ujian tanpa ada penjelasan detil terkait trik menjawab. Bersyukurnya saat itu saya sudah memiliki pengalaman kursus jadi saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu dan fokus latihan soal sehingga saya terbiasa dengan vocabulary yang memang biasanya muncul di soal IELTS. Sehingga bagi saya metode latihan soal-soal IELTS di kelas ini cukup efektif karna melatih kita disiplin untuk tiap hari latihan, karena walau terlihat kita bisa lakukan di rumah tapi belum tentu kita mau lakukan. Sehingga tak heran banyak teman kelas saya merupakan anak sekolahan yang membangun kebiasaan berlatih soal-soal IELTS pada saat mereka pulang sekolah.

Kedua, IDP Kelapa Gading. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, keputusan saya untuk ikut tes yang ketiga terbilang karena penasaran nilai IELTS kurang score 0.5 saja. Namun entah kenapa waktu itu saya masih tidak pede untuk langsung tes dan tetap mengambil kelas singkat di IDP Kelapa Gading yang juga merupakan lembaga penyelenggara IELTS. Biaya untuk kursus dua minggu atau 12 jam pertemuan saat itu adalah 1.5jt rupiah. Cukup murah dibanding tempat kursus lainnya. Namun menurut saya metode pengajarannya hanya berupa gambaran umum soal tes IELTS. Memang dalam beberapa kesempatan diberikan pula waktu untuk praktek berdialog soal topik IELTS speaking utamanya part 2 dan 3, namun karena jumlah pertemuan yang singkat tidak membuat kita benar-benar bisa terlatih dengan metode ini. Apalagi kalo hanya mengandalkan materi di kelas, dapat dipastikan kita akan gagal. Kursus seperti ini baiknya memang bagi mereka yang belum sama sekali berpengalaman mengikuti tes IELTS sehingga jadi pedoman seperti apa model soal-soal IELTS.

Ketiga IDP Kuningan. Secara pribadi saya tidak pernah punya pengalaman ikut kursus persiapan IELTS di IDP Kuningan. Namun yang ingin saya bagikan disini adalah terkait pengalaman saya tes IELTS melalui pendaftaran di IDP Kuningan. Berbeda dengan tes kedua dan ketiga melalui IDP Kelapa Gading, di tes IELTS yang akhirnya menjadi tes IELTS saya yang terakhir ini saya pilih di Kuningan Jakarta Selatan hanya karena alasan yang paling dekat dengan lokasi tinggal saya saat itu.

Terkadang Faktor “Lucky” Juga Penting!

Namun saya bersyukur ternyata pilihan saya tersebut tidak salah, karena ada beberapa faktor yang menguntungkan dari sudut pandang pribadi saya. Pertama, keuntungan yang saya dapatkan adalah psikolog para penguji speaking IELTS. Jika dibandingkan dengan IDP Kelapa Gading, yang rata-rata sekali menguji bisa puluhan orang dengan rata-rata siswa yang sudah mahir berbahasa Inggris di sekolah, akan menjadi sulit bagi penguji yang merupakan native speaker (bule yang sebenarnya sangat mahir berbahasa Indonesia) untuk memberikan nilai cukup (6.0) bagi para peserta tes yang level intermediate seperti saya ini. Mungkin beberapa teman pembaca ada yang berpikiran “kok bisa udah tinggal di luar negeri dan beberapa kali ikut persiapan speaking, lolosnya hanya mengandalkan lucky.” Sejujurnya saya pun malu dengan pertanyaan tersebut, karena dari beberapa guru IELTS saya sejak di Wimbledon hingga di Jakarta menyatakan kemampuan berbahasa inggris saya cukup baik apalagi pelafalan atau pronounciation saya sangat jelas dibanding dengan teman-teman kursus lainnya. Herannya teman-teman saya dari Italia dan China yang sulit berbicara bahasa Inggris pun bisa dapat score speaking IELTS yang lebih tinggi dari saya, memang cukup miris 😥 haha…

Keuntungan lainnya berdasarkan dari pengalaman saya adalah karena rata-rata peserta tes IELTS di IDP Kuningan saat itu adalah sudah dewasa (para karyawan kantor), sehingga bagi saya para penguji lebih terlihat lebih fleksibel. Aturan memang tetap diumumkan terkait pelaksanaan tes, namun saya lihat beberapa peserta tes yang tetap memegang pensil mereka saat dinyatakan waktu selesai tidak langsung diberi peringatan oleh pengawas. Sehingga saya sendiri berpendapat suasana jalannya tes saat itu cukup santai tapi serius dan tanpa tekanan yang membuat stres berlebih.

Istirahat Cukup Adalah Kuncinya!

Meski demikian saya akui tes IELTS terakhir saya saat itu sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis saya pribadi yang sangat baik. Berbeda dengan tes yang ketiga dimana saya melakukan tes dengan kondisi yang kurang istirahat dan fokus yang terbelah karena urusan keluarga, pada tes yang keempat, saya memang mengambil waktu khusus selama seminggu untuk menyendiri di hotel dan benar-benar memanfaatkan waktu untuk belajar soal-soal IELTS meski saat itu saya juga mengambil kursus IELTS secara private.

Berbeda dengan tes pertama yang berlangsung di London Inggris, tes kedua dan ketiga berlangsung di Jakarta karena saat itu saya dan anak saya mengikuti suami yang melakukan field research di Indonesia selama 6 bulan. Namun, pada tes IELTS keempat yang juga berlangsung di Jakarta, bisa terjadi karena saat itu saya lolos seleksi beasiswa Chevening ke tahapan interview. Walaupun saat itu saya sementara mengikuti suami yang sedang field work di New York, namun saya akhirnya harus kembali ke Jakarta pada bulan Maret 2019 untuk mengikuti interview di kantor Kedutaan Besar Inggris di Jakarta. Pada kesempatan itulah saya akhirnya memutuskan untuk juga langsung melakukan tes IELTS yang bersyukurnya akhirnya bisa menghasilkan nilai IELTS 6.5.

Kembali soal kursus IELTS private saya, sedikit berbagi pengalaman terkait hal ini, bagi saya saat itu 2 kali pertemuan dengan tutor bahasa Inggris Miss Wayan sangat bermanfaat. Apalagi dalam hal persiapan tes wawancara Chevening dengan topik-topik essay yang mana saya sudah berhasil lalui proses tahapannya (akan saya share di tulisan lainnya soal Berburu Beasiswa). Meski seingat saya saat itu kami tidak terlalu mendalam membahas soal materi-materi IELTS, namun Miss Wayan berbagi tips dan jawaban utamanya dalam tes speaking IELTS, bagaimana merespons pertanyaan penguji dan memberikan jawaban yang pas saat ujian berlangsung. Terkait dengan berapa biaya dan nomor kontak, teman-teman bisa mengirim pesan pribadi kepada saya jika membutuhkannya.

Saya berharap informasi yang saya bagikan melalui artikel ini bermanfaat buat banyak orang, utamanya bagi mereka yang sudah pernah gagal dalam tes IELTS/TOEFL. Mengejar standar nilai yang sesuai dengan persyaratan pengajuan beasiswa atau penerimaan universitas luar negeri memang tidak gampang, namun selagi kita terus berusaha pasti kita bisa meraih apa yang kita impikan. Kalau saya saja seorang yang penuh keterbatasan dengan kapasitas sebagai  fulltime mommy tidak menyerah, saya yakin teman-teman semua juga bisa lebih tegar menghadapi kegagalan diawal dan semakin mempersiapkan diri untuk meraih cita-citanya. Tetap semangat kawans!!

Wednesday, January 31st 2018

Yuhuu it’s been a week now! What an achievement!! Haha!!! 😁😍😊💪💪💪

Today i would like to share about my baby L whose like to play outside in the park.

To be honest, we are barely to go out in this winter. Although the park just 5mins walking from our house. Because as you see, when we go out, we have to wear such a complicated costum😅.

The weather actually was a bit nice this afternoon. It was sunny but it still cold about 4’C. So we had to put our jacket and gloves on. And we went to the Wandle Park a bit late actually, around 4.45pm. But it wasn’t dark as in the winter. Yes, this February should be a spring season in London. So the weather would be nicer than back in the winter *fingercrossed*!

This afternoon baby L was so happy when he tried the swing though it was quite windy at that moment. He ran through the playground pavement just to having fun by himself. Absolutely gorgeous!! You can’t imagine his cheeky face whenever i tried to catch him! Yes he won’t get this happiness in our house because of how small the living room we have. So i just let him enjoyed his moment in the park though i had to shivering because of the freezing weather.

When we were our way home, we saw a beautiful full moon. It was terrific! Based on the news, it’s called “Super Blue Blood Moon”. How lucky we had a chance to see it clearly.

We closed the night with a happy feeling and a massive kiss from my baby boy. How sweet he is! Blessed him!!😘👶🏻👩‍👦

Xoxo..

Mom’s favourite spot

Today is a day off for me to be out of home. But actually it’s not literally “a day off”, but it’s the opposite, a full day home work to do! 😂

As a house wife, i am in-charge to do what is supposed a house wife has to do. Cooking, laundrying, and indeed taking care of the baby. But thank God, i have a kindhearted husband who loves to share doing the job. Although being in a kitchen it’s not his favorite part. Well it’s completly different with me. I do love cooking! It’s sort of experimental session for me. Mixing ingredients all together and magically u’ll produce kind of food that you can (or you have to) eat at the end!!.😁😆

As everyone knows that Western people is back to back with Asian people regarding to the food taste. Western food is a bit plain, if i can say so, they don’t want too much spices in their meals. And also uncooked vegetables. What a healthy life style to be honest! Really a big difference with Asians who love a lot of ingredients in their foods. And mostly they fry it with a lot of oil😁.

What i’m trying to tell actualy is about the kitchen’s furniture (what?🤔🤪😂). Because of those reasons, Western people seem to prefer having an oven in their kitchen. As i said before, they don’t really like frying everythings. Instead of frying they will cooking the food in the oven. So it’s a must for them to have an oven. But it is different in Asia, especially Indonesia of course. Mostly Indonesians cook their meals or just the vegetables by frying them. So it’s not really a must for a mom in Indonesia to have an oven in her kitchen. As long there is a stove, the meals can be provided.

Well, if you ask me when i’ll be back to Indonesia later should i have one? The answer, yes i should! 😁 *poke pappa*😆

This is my story of the day, what’s yours??!😉

Settling in part one

The time has come. My little baby is not so-little-anymore. He growns up very well. So in his 16mo age we have decided to take my baby boy to the nursery. And today is the first day for him to settling in.

It wasn’t a surprised for me when i saw Landon was so excited meet some new people. Especially babies. (Yes, he keep saying all his friends baby include himself👶🏻). He didn’t want to stay longer inside the buggy when the nursery doors were opened for us. With a naked feet he jumped to the floor and tried to run in the chamber. But i kept holding him and tried to put his shoes on.

Amber is the lady who was welcoming us and did some settling in procedure. There were some questions that i had to answer and tell the nursery about Landon, such as what he’s allergy at, what time his nap time, etc. While i did the Q&A session with Amber, Landon was moving around all corners to explore everything that absolutely new for him. Actually that was also the aim of the meeting, to introduce Landon where he will be at for 5 hours on next monday. But because today i was still around him, so we scheduled the second settling in session for baby without mommy.

However this is not an easy thing for me to do it. You know that sort of feeling when you have to be seperated with your own baby, though for this long (16 months) you’ve been always together.

Yes i acknowledge there were some hours when i took my English course i had to leave Landon with his daddy. But this won’t be the same. Because clearly they are new people for me and of course for the baby.

But i realise that it’s not a good thing for me to be always together with my baby. He has to go to the community to mingle with some friends. Learn new things, explore new toys with other babies and tots should be more fun. More than it, he will be more dicipline to feed himself by his own and be more independent to do all things in his life. Yes, it’s quite different with my own culture. But however Western habbit is a good thing to adapt for. Otherwise my baby will be too spoiled if always side by side of me. So fingerr crossed, i hope and pray every thing just run smoothly. Nothing to worry! Be still my heart, be still and keep believing to God!! 😊🙏🏻

Blessed Sunday

“Surely Love and Mercy, Your Peace and Kindess, will follow me, will follow me,…”

What a blessed sunday i had today! Not just for me and my husband, but absolutely also for my baby boy who just attended his first toddler group at church.

After more than a year we’ve been attending services at the family room, finally today we gave our baby a go to the toddler group. It’s called the cubby house, where the children whose ages range 1-3 years gathering together.

The environment was so playful, with a lot of toys everywhere and of course my baby met many new friends to play with in there. Landon was so excited when we entered the room. Although his mommy was a bit worry to leave him for 2 hours at the first time. But thank God everything ran smoothly. Landon had been so nice, as the sister leader said so, though we had to check him twice during the service. Because you know everything at the first time may deal with unpredictable situation, so we thought that we just had to double check to keep us calm and no need to over worry about the baby. But somehow even in this little thing God knew. I mean when i started to worry about my baby, somehow the song spoke it to me ” Be still my heart and trust,…” haha!! What a smashed!!

While the baby enjoyed his funtime with his buddies, mommy and daddy really had a great time during the service. I have to say finally God answered my prayer. Because you know for this long i couldn’t really have a proportional time for me to pray or even to sing a song. But thank God finally today i could make it! Finally i had a quality time for praising and worshiping my Almighty God, and even more i was so blessed by His Words. What a lovely Jesus!!

So guys,, no matter what your situation is… keep the faith, keep believing, keep trusting and hold on to our Lord God!!

Have a blessed one..

Home Cooking Recipes

Day three! Here we go!!!

Today a friend of my hubby came to our house to spend weekend together. As a good host of course i had to cook some delicious food to serve the guest and us, definitely!

So here are the menus for today’s lunch with the ingredients and some tips on how to cook!👩🏻‍🍳

*> Vegetables salad with peanut sauce

*> Spicy fried Mackerel

*> Spicy Pork Woku

Ingredients:

– 1/2 kg pork meat, a lemon/vinegar

– Spicy sauce: some chillies (depend on what hot level u want it), 1/2 big red onion, 4 cherry tomatoes (not too much), ginger powder (or 1 piece medium ginger), turmeric powder (or 1 piece big turmeric), 7 candlenuts, and just a few garlic powder, 2 pieces of lemongrass

– Salt and oil

How to cook:

– Dice the pork and pour with lemon/vinegar and salt

– Blend all the spicy sauce ingredients together except the lemongrass, until they are all mixed around

– Heat the oil on the frying pan, the lemongrasses, and put the blended chilli sauces. Give some salt. Stir it and wait for 2 minutes and after that put all the pork meats and mix them together then give water to boil the meats until they are tender. Usually it will take 20minutes to make the spicy pork really tasty to eat.

Please have a try! Good luck!! Cheers.

Day two! Haha!! I made it dude🤣

<<<<
what's the highlight of the day??! As you could see the image of the receipt, it clearly says it all!!

Then maybe you will ask me, howcome? In London?? Yes, it's absolutely not a fake receipt!

Now i'll tell you from the begining.

This afternoon, my husband and i decided to take an extra effort for 20minutes walking from our house, just to go out for grocery. It was a pretty tough thing to do for me, i mean the walking, though living in UK everyone likes to take a walk. But not for me! Especially in the winter, the weather is really unpredictable, mostly windy and rainy. So i prefer to go to the nearest Supermaket that i can find, which means the Tesc* Expres*.

This supermaket actually has a good value for some vegetables and fruits. But unfortunately the Expres* means that they don't provide everything for your weekly needs. So i have to go to a bigger supermarket. Actually, there are two big Supermarkets that i love to go. One is Sainsbur* and the other one is Ald*, which i went there this afternoon. If i can choose, i really would love to go to Sainsbur* for shopping. Because in there, there is a lot of stuffs that i can look for. Not just the grocery for sure, but also i can take a window shopping in the “Womens section”, if i can say so. But the bad thing is the price is really up from the budget. Let say i wanna buy a banana. In Ald* i can find it cheaper than in Sainsbur*. Not just the fruits but everything, meat, bread, vegetables, etc. There’s a different level of brands indeed. But for me a settler who doesn’t really care about brand i think Ald* is a good shop for relying our lives on.

In fact with less than £50 (<1juta rupiah) my family and i can survive for the whole week. I think  even this is quite cheaper than back in my country.

Well, this is my story of the day, hope you enjoy it!! Cheers.<<<<
gt;

Baby’s funtime day

Thursday, Jan 25th 2018

So tonite i have decided (finally) to write down my article in English, of course to improve my writing, and do something “great” in a day ( i mean something that unusual for me as a mom–typing!!).

This is gonna be my 1st article about my life story in a day, maybe i better call it a diary then😋, and i hope this is not the first and the last diary😅 (moody person-bad behaviour😁🙈).

Well, i name it “Baby’s funtime day” because i know today was a fun day for my baby boy who just turned 16months last sunday.

Every thursday usually my baby boy Landon and i go to the Children Centre nearby our house, to meet and play with some friends (baby and toddler group). It is just 10 minutes walking, so it shouldn’t be a problem for mom to wake up early and get prepared with the baby and arrive on time at 9.30am at the venue (haha! Actually that’s the big issue until now😂–read: always late🙈). But thank God, the “funtime” is not as short as the other children’s group meeting. So baby and mom still have plenty of time (approx one and a half hour) to play and run inside the play hall before the time is over.

There was a lot of people this morning in the Children Centre. The crowd looked the same, but some of them were unfamiliar. Yes, that means “mingle time” for momma and baby to get some new friends😊. And taraaa, finally Landon got a new friend from Japan. Yeay! What a happy moment could meet an Asian friend in here😅.

We love being in the funtime group, it is always fun and exciting! Especially the bubbles part. Landon loves it so much!! Can’t wait for next thursday, get messy with the cutie tiny tots! 👶🏻👶🏻👶🏻❤️❤️❤️

It’s not finish yet!

Rasanya seperti seabad tidak berhadapan dengan laptop ataupun buku. Padahal baru setahun, kegiatan harian saya berpindah menjadi urusan popok, menyusui ataupun memberi makan anak, hehehe..

 

Ya, dalam dua tahun terakhir ini banyak sekali perubahan dalam diri saya. Berawal dari tanggal 2 Februari 2016, ketika saya diyakinkan dokter kandungan telah hamil 4 minggu . Saya pun sedikit heran saat itu, karena memang awal bulan Januari kami masih konsultasi dengan dokter sebagai lanjutan pemeriksaan program kehamilan. Ternyata tak butuh waktu lama bagi kami untuk mendapat momongan, doa kami langsung dijawab oleh Tuhan. Padahal menurut dokter, pasangan yang baru menikah di bawah 1 tahun tak perlu konsultasi, karena proses itu akan terjadi secara alamiah. Kami pun makanya hanya diberi vitamin-vitamin untuk membantu proses kesuburan pasutri. Puji Tuhan sejak masa mengandung sampai melahirkan, saya pun diberi kemudahan.

 

Namun memang walaupun jarang mengalami morning sickness, jam kerja saya yang tak teratur saat itu membuat kondisi tubuh mudah sekali menjadi drop. Hingga suatu ketika, saat saya ditugaskan menjadi FP konferensi pers di suatu kementerian dan bertugas hingga larut malam bahkan dini hari, saya pun menjadi lemah hingga muntah-muntah. Saat itu usia kandungan saya memang sudah jalan 3 bulan, sedikit lumrah buat ibu hamil untuk mengalami hal demikian. Namun rasanya bagi saya pribadi mual dan muntah-muntah saat itu bukan karena kondisi jabang bayi, tapi karena tubuh saya yang tidak fit akibat sering pulang larut malam karena pekerjaan. Apalagi pekerjaan reporter ataupun Field Producer merupakan pekerjaan lapangan, sehingga selain jam kerja yang tidak beraturan, lokasi penugasan peliputan untuk siaran langsung pun tidak haya satu, namun sering berpindah-pindah tempat. Akhirnya karena alasan ini pula juga, per tanggal 15 Mei 2016 saya resmi resign dari pekerjaan saya sebagai seorang reporter, dari kantor saya yang telah hampir 5 tahun lamanya saya abdikan diri sebagai tempat mencari nafkah. Dan sejak saat itu hingga kini saya masih menjalani pekerjaan saya sebagai seorang Ibu Rumah Tangga, mengurus keperluan suami dan tentunya anak yang Tuhan telah percayakan bagi keluarga kecil kami. Walaupun kalau membaca tulisan saya sebelumnya (kaleidoskop 2014-2015), saya memastikan bahwa saya akan setia menjalankan komitmen yang telah saya buat, untuk menjalani pekerjaan yang saya yakini sebagai passion saya, di bidang broadcast journalism. Bagi saya, saya pahami masa ini sebagai masa break dari pekerjaan, dan fokus pada hal yang kini telah menjadi prioritas hidup saya, yaitu keluarga. Walaupun sebenarnya dapat dikatakan saya tidak benar-benar break dari pekerjaan sebagi jurnalis tv, karena dalam beberapa bulan terakhir saya masih sering dipercayakan untuk memberikan kabar terkini terkait kejadian-kejadian besar di Inggris, di tv tempat saya bekerja dahulu.

 

Ya, bulan Agustus ini tepat setahun saya dan suami tinggal di London Inggris. Sejak awal tahun 2016 kami telah mendapatkan kabar gembira bahwa suami saya berhasil mendapatkan beasiswa S3 di LSE (London School Economics and Political Science). Dengan alasan ini pula, saya memang harus mengundurkan diri dari rutinitas pekerjaan saya di kantor sebelumnya. Berhubung sudah menjadi keputusan kami untuk tinggal merantau bersama selama 4 tahun lamanya di Negara Ratu Elizabeth, United Kingdom.

 

Tidak terasa waktu berlalu, hampir setahun pula anak kami Landon hadir di tengah-tengah keluarga kecil kami. Tanggal 21 September 2016 pukul 15.10 GMT, anak kami laki-laki yang kami beri nama “Landon Alexster Wenas” lahir di rumah sakit St Thomas, yang berlokasi tepat di seberang Big Ben London. Rasanya seperti mimpi, kami berdua bisa membesarkan anak kami di tanah perantauan ini. Ya, sangat jauh berbeda tentunya ketika melahirkan di tanah air. Banyak keluarga, sanak saudara ataupun teman yang mungkin bisa berkunjung ataupun membantu kita mengurus anak. Budaya barat memang mengharuskan anak yang telah berkeluarga untuk memiliki tempat tinggal sendiri dan mandiri. Sangat jarang saya temui, ibu-ibu yang secara 24 jam menyerahkan anak mereka diurus oleh baby sitter. Kebanyakan mereka harus mengurus anak sendiri, walaupun banyak juga diantara mereka yang masih bekerja. Ya berhubung sudah tinggal di luar negeri, saya pun harus menyesuaikan dengan kultur dan kebiasaan ini walaupun sebagai seorang ibu baru, banyak hal yang masih saya tak mengerti dalam mengurus dan membesarkan anak. Namun Puji Tuhan semuanya mampu terlewati dengan baik selama hampir setahun ini, tentunya juga semua atas bantuan dan support dari suami tercinta.

 

Saya percaya masing-masing kita memiliki prinsip hidup, yang lahir dari pilihan hidup yang kita ambil. Bagi seorang ibu, ada yang secara penuh mengabdikan diri bekerja sebagai seorang Ibu Rumah Tangga, mengurus suami dan anak-anak tanpa harus memikirkan pekerjaan lain. Namun ada pula ibu yang walaupun mengurus suami dan anak-anaknya tetap masih menjalani pekerjaan lain. Yang pasti semua ada konsekuensinya, baik itu yang baik maupun kurang baik untuk kita terima. Bagi saya, pilihan yang saya buat saat ini adalah fokus mengurus rumah tangga saya. Suami dan anak adalah yang prioritas. Namun saya tetap memperbesar kapasitas diri saya, mengisi masa-masa ini untuk belajar, mempersiapkan diri untuk dapat melanjutkan pekerjaan yang saya imani sebagai passion hidup saya. “Start it with Passion, Finish it with Commitment!”…. wait, it’s not finish yet!!!

 

 

 

 

“We Serve a BIG God. Dream BIG Dreams!!”

Oleh: Ollen Ester Wangania, DATE Member Kelapa Gading 29

 

DATE bagi saya lebih dari sekedar tempat sekumpulan teman, namun keluarga yang senantiasa ada di dalam setiap musim kehidupan saya. Yang senantiasa menuntun bahkan menantang saya mengeluarkan setiap potensi terbaik, untuk mencapai setiap mimpi saya.

 

 

Berawal dari keinginan bertemu dengan artis yang bergereja di JPCC, saya pun mengiyakan ajakan teman saya untuk mencoba beribadah di kebaktian sunday service di upperroom pada sekitar bulan Mei 2008 yang lalu.

 

Saat itu saya sendiri sebenarnya baru tinggal di Jakarta sekitar 3 bulan lamanya, setelah merantau dari tanah kelahiran saya kota Manado tak lama sejak kelulusan saya dari perguruan tinggi. Akhirnya tiga bulan kemudian saya dan teman saya memutuskan untuk mengikuti komunitas DATE, yang bagi kami sebenarnya sudah tak asing dengan komunitas kecil gereja. Kami pun memutuskan untuk menjadi bagian DATE member Sudirman Park 3 dengan DL Andre Satyadharma. Meski saat ini saya sendiri sudah tergabung dengan DATE Kelapa Gading 29 dengan DL Sri Minarni, sejak saya berpindah tempat kerja. Sebagai anak perantauan, kami sangat senang setiap minggu bisa bertemu dengan teman baru dan saling share tentang pekerjaan, keluarga, pergaulan dan tentunya bisa makan makanan yang enak-enak hehe..

 

Tertanam dalam komunitas yang benar, membuat saya menemukan Visi Hidup

Namun seiring dengan waktu saya tertanam dalam DATE dan mendengar khotbah-khotbah di JPCC, saya merasakan kegelisahan dalam diri saya. Saat itu saya merasa pekerjaan sebagai finance staff bukan bidang yang saya senangi walaupun memang saya sadari, saya adalah seorang sarjana akuntansi. Hingga akhirnya pada akhir tahun itu saya mendengar khotbah dari Johny Herjawan tentang Visi. Saya ingat betul bagaimana perumpaan tentang labirin yang dibawakan Pak Johny benar-benar membuka mata saya untuk mampu melihat dimana diri saya 20 hingga 50 tahun kedepan. Saya pun memberanikan mulai melangkah dengan membuat resolusi hidup, yang saya awali dengan mulai mencari kursus public speaking pada awal tahun 2009.

 

Terkadang orang yang terdekat justru adalah yang mengecewakan, namun tetaplah setia karena mereka hadir untuk membuat diri kita lebih baik.

Perjalanan menemukan pekerjaan di bidang broadcast journalism tak semudah yang saya bayangkan. Hampir setahun saya berusaha casting di berbagai stasiun tv untuk menjadi reporter tak membuahkan hasil. Bahkan saat itu terasa semakin berat karena teman-teman dekat saya termasuk teman DATE, justru semakin membuat saya untuk berpikir normal dengan menyarankan saya mencari pekerjaan di perusahaan saja sesuai dengan bidang saya. Namun seakan mendapat tanda dari Tuhan, saya mendapat kesempatan melayani sebagai presenter Breaking News di JPCC. Sungguh bagi saya pelayanan bersama dengan rekan-rekan yang kebanyakan sudah terbiasa bekerja di bidang broadcast menjadi hal yang membuat saya minder. Tapi saya bersyukur teman-teman di DATE mengingatkan saya justru untuk semakin mengandalkan Tuhan dan terus berusaha mengeluarkan setiap potensi terbaik yang ada dalam diri saya.

 

Di dalam Tuhan, pengharapanmu tidak akan sia-sia

Akhirnya pada awal tahun 2010 penantian panjang terlewati sudah. Saya mendapatkan kesempatan magang di sebuah stasiun tv lokal di Jakarta setelah mengikuti audisi News Presenter di sebuah Universitas di Jakarta. Tapi siapa yang bilang tak ada harga yang harus dibayar untuk mencapai cita-cita yang kita inginkan. Tiga bulan pertama merupakan saat-saat yang terberat karena saya sendiri sudah terbiasa dengan gaji yang cukup besar bagi saya saat itu sebagai seorang finance staff di NGO’s. Dan tiba-tiba harus mencukupkan diri dengan uang makan per hari sebesar Rp.15.000,-, padahal saya sendiri sudah mulai memberikan uang bulanan kepada orang tua sejak bekerja. Namun bersyukur untuk teman-teman di DATE yang sudah seperti saudara, senantiasa memberikan support di saat-saat saya ingin menyerah.

 

Perjalanan karir sebagai seorang jurnalis tv pun Tuhan tuntun selangkah demi selangkah. Bermula hanya sebagai seorang karyawan magang dan akhirnya saya bisa bekerja di sebuah tv berita nasional hingga bulan Mei 2016 yang lalu.

Sungguh di luar dugaan, saya bahkan bisa bertemu dengan pasangan hidup saat berdinas sebagai wartawan istana kepresidenan. Kami pun menikah pada tahun 2015, setelah Tuhan membuka pemikiran kami bahwa ada visi hidup yang sejalan diantara kami berdua. Dan Puji Tuhan, saat ini kami akan memasuki musim kehidupan yang baru dengan menjadi orang tua.

 

Jangan pernah batasi Tuhan dengan kemampuan berpikir kita

Sungguh rancangan Tuhan sangat luar biasa di dalam kehidupan setiap kita. Mungkin anda juga sama seperti saya, seorang perantau dari sebuah desa kecil dan hanya seorang sarjana lulusan daerah yang sementara berjuang di ibukota. Terkadang kita diperhadapkan dengan situasi yang membuat kita diharuskan berpikiran normal dengan bermimpi yang sesuai standar kapasitas diri kita. Meski saat ini saya juga menyadari saya belum berada tepat di posisi yang saya mimpikan, namun saya imani tuntunan Tuhan akan terus nyata ketika saya benar menjalani visi hidup yang bukan hanya berkaitan dengan diri saya sendiri.

 

Firman Tuhan dalam Amsal 23:18karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang”. Jangan pernah batasi Tuhan dengan kemampuan berpikir kita. Teruslah bermimpi yang besar karena kita memiliki Tuhan yang besar. Jangan pernah turunkan standar mimpi kita, tapi justru perbesarlah kapasitas diri kita sehingga semakin layak mencapai segala hal yang kita inginkan. Karena sesungguhnya ketika kita telah melakukan apa yang menjadi bagian kita, maka Tuhan pun akan setia melakukan apa yang menjadi bagianNya. Dan teruslah tertanam dalam komunitas yang sehat, dikelilingi teman-teman yang senantiasa setia dalam setiap musim kehidupan kita.

Screen Shot 2017-08-03 at 7.33.46 PM

Silahkan baca selengkapnya di http://alive.jpcc.org/?p=1001 (versi yg sudah di edit dan di publikasi 🙂 ) Gbu!!