Semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar(SD), bakat menjadi seorang pembawa acara sebenarnya telah terlihat dari diri saya. Meski punya banyak kelemahan khususnya di bagian suara, yang kerap jadi bahan tertawaan dan ejekan keluarga karena suara saya keras dan melengking. Namun saya memang cukup berani dan senang tampil di depan, sehingga dari kecil saya senang ketika disuruh menjadi pembawa acara saat upacara misalnya. Apalagi saat saya pindah ke Manado dan melanjutkan sekolah disana, beberapa kali saya dipercayakan menjadi protokol/pembawa acara di tiap upacara sekolah. Bakat ini makin terasah ketika saya senang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler baik di SD,SMP hingga SMA. Baik dari acara sekolah seperti pembawa acara saat upacara pengibaran bendera, maupun acara-acara saat ekstakurikuler yang saya ikuti seperti PMR/PMI saat SMP dan Pelsis (Pelayanan Siswa).
Bakat ini lebih menonjol saat saya duduk di bangku sekolah SMA. Banyaknya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan asrama, membuat saya mau tidak mau berbicara di depan orang banyak, dan kesempatan untuk menjadi MC/pembawa acara di tiap acara semakin besar dipercayakan kepada saya. Menjadi seorang pembicara, pengarah acara, dan juga pembawa acara, merupakan image yang secara tidak sadar saya bangun saat itu. Tak jarang saya berbicara di depan banyak orang , baik itu di depan seluruh siswa dan guru, maupun juga para orang tua murid, baik di acara Ekstrakurikuler bidang kerohanian, bidang kesiswaan OSIS dan juga kepanitian acara internal sekolah dan asrama.
Misalnya saja foto di atas ini, foto saat saya menjadi ketua panitia acara penamatan siswa di SMU saya. Saat itu selain juga mengurus segala persiapan dan pelaksanaan acara, kalau tidak salah ingat saya juga yang menjadi mc acaranya. Setelah acara selesai, saya dan teman-teman panita bahkan mereka pengurus OSIS, saling coret-mencoret baju dengan pilox seperti yang diakukan pada umumnya sebagai tanda tamat dan merdeka dari seragam sekolah,hehehe,,sungguh memori manis saat masa-masa SMA^^. Selain itu berhubung saya menghabiskan masa SMA saya di asrama sekolah, saya pun kerap mengikuti bahkan dipercayakan dalam acara yang diselenggarakan asrama sekolah kami.
Foto ini saat acara “natal bersama”, siswa dengan alumni asrama kami, kelas binaan khusus (Binsus). Saat itu merupakan saat dimana saya sebagai MC bersama seorang sahabat saya, untuk pertama kalinya direkam dengan video dalam acara bersama kami,,haha,,lucu sekali kalo nonton video itu,,semoga saya bisa segera upload videonya^^.Yah itulah kenangan saya di masa-masa SMA yang membuat bakat saya semakin terasah.
Hal ini semakin berlanjut ketika saya masuk perguruan tinggi. Meskipun bukan di dunia broadcast bahkan jauh berbeda dengan ilmu komunikasi atau jurnalistik, saya menetapkan masuk jurusan ekonomi accounting. Memang jurusan ini pun sebenarnya bukan yang saya idam-idamkan. Semula saya ingin masuk jurusan manajemen, karena saya lebih tertarik ilmu yang bisa berinteraksi dengan orang lain namun saya tetap melanjutkan pilihan ini. Empat tahun kuliah di jurusan ini, bukan berarti bakat saya terbenam begitu saja. Mengingat saya tipe orang yang senang berorganisasi, saya pun tidak hanya datang ke kampus untuk belajar ilmu pengetahuan saja, namun lebih dari itu, hingga kemampuan saya berbicara di depan orang banyak terus terasah. Baik itu di acara pelayanan mahasiswa, Himpunan Mahasiswa jurusan, sering juga tergabung di acara Senat fakultas bahkan sampai tingkat universitas, dan yang paling menarik, MC telah saya jadikan semacam profesi sambilan saat itu karena saya telah dipercayakan di acara eksternal kampus, bahkan saya pernah dibayar untuk pertama kalinya sebesar Rp.750.000,- ketika menjalani profesi ini,,$.$. Namun memang itu bukan tujuan saya, karena saat itu saya hanya mengambil setiap kesempatan yang diberikan oleh teman kampus maupun dosen yang mempercayakan saya untuk menjadi MC di acara internal maupun eksternal kampus,dan saya senang melakukan semuanya itu.
Seperti terlihat di foto, saya menjadi MC/protokoler saat upacara pelepasan mahasiswa yang telah lulus, juga terlibat dalam kepanitan Kongres ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), menjadi MC di acara-acara workshop, seminar kerjasama fakultas dan pihak luar, pernah juga menjadi MC saat Angelina Sondakh yang saat itu baru menjadi anggota DPR RI dan menjadi pembicara dalam kegiatan unversitas yang kami selenggarakan. Dan yang tak terlupakan yang tadi saya sebut diberikan fee atas jasa saya untuk pertama kalinya saat menjadi MC di workshop Regional DPRD kabupaten dengan pembicara saat itu Dirjen Keuangan dari ibukota.
Di masa akhir kuliah saya, saya sempat ada di masa stuck di kampus, saat pembuatan tugas akhir/sripsi. Setahun itu saya manfaatkan bekerja di dua perusahaan sebagai marketing juga freelance dan terakhir sempat bergabung di EO yang pernah bekerjasama dengan program Seleb Dance ANTV yang saat itu diperbantukan juga sebagi MC lokal bersama MC dari Jakarta yaitu Panji.
Saat-saat itu saya banyak belajar dengan melihat langsung bagaimana kehidupan bekerja di sebuah media. Statement ‘malam jadi pagi, pagi jadi malam’ yang saat ini didengung-dengungkan para jurnalist media dan para broadcasternya sebenarnya pertama kali saya dengar dan rasakan langsung saat itu, ketika menemani kru ANTV saat bertugas sampe subuh untuk meliput momen pengumuman pemenang dancer di rumahnya. Satu rombongan, MC, kameramen, Ass.Pro dan Producer serta antek-anteknya,,hehehe,,berbarengan kita hunting rumah para pemenang dan bikin surprise,,wuihh berasa bener capeknya saat itu #.#..
Selain di EO itu saya pun tergabung dengan tim jurnalist di tabloid yang masih satu manajemen, dalam pencarian berita yang saat itu topiknya sesuai dengan momen bertepatan dengan acara penerimaan mahasiswa baru di univeristas kami.
Masa menimbah ilmu akhirnya selesai sudah, namun tentunya usai yang tidak bersifat permanen karena oneday saya tau tiba lagi saat saya harus meraih pendidikan akademis yang lebih tinggi. Kota Manado saya tinggalkan dan datang ke ibukota untuk mengadu nasib tanpa mengerti saat itu apa goal pekerjaan saya.
Tak lama berdiam diri mencari pekerjaan, seminggu di Jakarta dengan bantuan informasi dari kakak saya, akhirnya saya bekerja di sebuah NGO’s (Non Government Organitations) lokal dengan issue ‘Peace’. Memang semua bukan kebetulan, walaupun status saya sebagai karyawan finance, namun tak merintangi saya untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri saya. Berhubung program kerja yang kami lakukan seputar training, facilitating, workshop dan juga pembuatan proposal kerja sesuai issue NGO kami, maka bakat saya dalam dunia nge-MC dan mengorganisasikan event tetap tersalurkan. Bahkan research dan wawancarai orang yang sebelumnya hanya saat pembuatan skripsi saya lakukan, akhirnya saya kerjakan saat saya bekerja di tempat ini.
Bisa dilihat di foto saya dengan Sultan Hamengku Buwono X, saat saya jadi MC di Kongres Fasiitator Perdamaian se Indonesia, khususnya daerah rawan konflik, yang saat itu dihadiri setidaknya 10 propinsi. Pelaksanaannya di Makasar yang dibuat oleh NGO kami dengan mengundang juga gubernur Sulsel. Walaupun officially saya bertugas sebagai operating finance, namun saya dipercayakan juga untuk menjadi pengarah dan pembawa acara dalam event itu oleh kantor saya. Selain itu, saya juga sering menjadi MC di workshop dan seminar yang dilakukan seperti yang di foto ini,
di hotel Nikko kerjasama dengan FES (NGO’s Jerman),
di hotel Ibis kerjasama dengan USAID (NGO’s USA),
seminar-seminar dengan pemerintah Menkokesra,Seswapres. Juga event-event lain baik itu acara internal kantor maupun kerjasama dengan pihak luar, pernah dipercayakan saya untuk menjadi MCnya dengan diberikan bayaran maupun tidak, saya tetap menjalaninya:)
Akhirnya hampir bekerja setahun di Jakarta, pada akhir tahun 2008 saya menemukan visi hidup saya. Saya pun merancangkannya dalam Carrier Maping yang telah saya pikirkan matang-matang sesuai dengan visi hidup, khususnya dalam pekerjaan. Saya pun menemukan kekuatan yang saya miliki yaitu bakat berbicara di depan orang banyak sejak dulu, lewat seringnya dipercayakan kepada saya untuk menjadi MC di tiap event baik yang formal maupun semi formal. Saat itu saya pun menetapkan memiliki cita-cita menjadi seorang News Presenter yang setelah lebih dalam lagi saya mengerti menjadi seorang News Anchor. Saya mengetahui karakter dan interest saya lebih cocok di bidang News ketimbang menjadi seorang Host/Presenter program produksi.
Setelah melakukan perencanaan karier hidup, saya pun mulai mencoba untuk meraihnya. Saat itu untuk pertama kalinya saya ikut audisi News Presenter TV yang ada di Job Fair. Pengalaman yang tak terlupakan ketika dengan bermodal nekat, saya langsung tes ‘on cam’ untuk pertama kalinya di booth TransTV. Membaca naskah berita bahasa Indonesia dan bahasa Inggris langsung di depan kamera, disorot lampu yang sangat menyilaukan mata, dan ternyata wajah saya terpampang di layar berukuran besar yang bisa dilihat para pengunjung pameran,,hahaha,,pokoknya pengen ketawa terus kalo ingat masa-masa itu. Dan, yah tentu saja, penampilan saya mungkin terburuk dibandingkan anak-anak komunikasi pentolan univeristas-universitas ibukota. Tapi bukan berarti saya langsung berbalik arah balik ke rumah, saya pindah ke booth ANTV yang saat itu juga ada di pameran kerja itu,,hehe^^…Pikir saya, ga pa2 lah yang penting dah coba ngerasain ‘gimana rasanya di depan kamera dan baca berita’,,hehe..tapi ternyata mungkin sedikit kejaiban kecil yang diberikan agar saya tetap mempertahankan cita-cita saya, saya pun di panggil di bulan kedua setelah tes saat itu. Namun setelah psikotes, karena memang banyak juga pesaingnya, saya tidak berhasil saat itu. Akhirnya saya pun berpikir bahwa memang benar tidak bisa hanya bermodal nekat dan niat yang besar saja, saya harus mengembangkan dan mengasah potensi yang saya miliki dari diri saya ini. Saya langsung mencari bacaan tentang Public Speaking, waktu itu saya baca buku “The Power of Public Speaking’ by Charles Bonar Sirait dan mencari tempat kursus kelas presenter. Setelah saya browsing saya mendapati TYPSS (Tantowi Yahya Public Speaking School), sebagai tempat kursus yang tepat bagi saya. 
Awal tahun 2009 saya langsung mengikuti kursus dan benar saya mendapatkan berbagai teman yang berasal dari latar belakang yang beragam. Ada dari mereka yang memang praktisi di dunia bidang Public Speaking, seperti profesi MC, model, HRD di perbankan, bussinessman, namun tak sedikit juga yang sama dengan saya, masih belum punya pengalaman kerja di bidang ini. Berbagai materi untuk menjadi seorang profesional MC dan TV Presenter diajarkan di kelas kami, baik itu teknik vokal, gesture tubuh, kreativitas dan juga banyak hal lain, dan juga praktek langsung, sehingga menjadikan saya semakin terbiasa berbicara di depan kamera. 
Namun memang sedikit kekecewaan saat itu, ketika trainer yang saya harapkan untuk dapat langsung mengajar saya, yaitu Tina Talisa dan CBS, tidak kesampaian bertemu:( hikss
,, Setelah kursus berakhir saya pun ikut tergabung dalam pengurus alumni TYPSS, sehingga tetap menjaga relasi saya dengan para orang yang senang akan ilmu komunikasi.
Seperti di foto ini pak Tantowi Yahya langsung memberikan coach pada kami saat pertemuan alumni berlangsung saat itu.
Usaha untuk menjadi seorang news presenter tetap saya lakukan, baik itu lewat usaha belajar dan berusaha mencari lowongan di bidang ini dari media tv nasional maupun lokal. Baik itu hanya lewat pengiriman CV saya maupun langsung casting di lokasi. Banyak hal yan lucu kalo mau diingat-ingat,,hehe..misalnya nih ada media yang sesuai etnis tertentu(ga usah disebut label yah) pernah saya jalani castingnya di tengah mall,,,,hahaha,,memang niat banget^^,,ada juga TV lokal (TV N) yang saya bela-belain dari Jakarta ke Cikarang naek angkot bareng temen saya untuk casting disana,,haha..ada juga Trans 7 yang mungkin hampir tiap tahun saya ikuti castingnya (ke-2 maksudnya^6)..yah begitulah perjalanan saya, namun yah seperti kata orang, ibukota lebih kejam dari ibu tiri,,namun proses ‘petualangan’ ini tetap saya nikmati..
Meski belum menjadi profesi saya, namun Tuhan tak menutup mata. Kira-kira pertengahan tahun 2009, saya mendengar ada audisi presenter Breaking News di gereja kami JPCC (Pembaca informasi seputar kegiatan gereja). Saya pun memutuskan untuk mengikuti dan ternyata kali ini “the star just start to raising”.

Secara tidak langsung gereja saya semakin mengasah diri saya untuk secara continuely mengeluarkan potensi yang saya miliki. Dengan memiliki teman sesama presenter di gereja yang memang sudah berprofesi sebagai presenter/news presenter, saya makin termotivasi bahwa saya bisa bahkan bisa lebih dari mereka. Menjadi seorang presenter Breaking News yang dilihat hampir 7000 jemat di hampir tiap bulan, semakin membuat saya berani dan terus mengexplor potensi yang saya miliki lebih lagi dan terus berproses belajar hingga saat ini.
Jaringan yang saya miliki semakin besar dan terus saya kembangkan. Bersama-sama dengan teman-teman di gereja saya di latih dalam training khusus dari JPCC untuk para presenternya oleh tim Talk-inc (Becky Tumewu, Ermin Parengkuan).
Saya semakin diasah dan diperlengkapi dalam skill ini oleh ketiga pembicara yang tak diragukan lagi keahlian mereka. Seperti foto ini, saat pelatihan dengan teman-teman presenter oleh mas Erwin. Selain itu saya terus kembangkan jaringan di luar juga, mengikuti club Public Speaking bersama bang Charles Bonar Sirait di sekolah Public Speakingnya.
Dan pernah sekali waktu maju dalam segmen acara ’3 menit di panggung CBS’, yang saya telah ceritakan di artikel yang berbeda di blog ini, tentang naskah yang telah saya tulis sebelumnya dan bacakan. Dan momen yang tak terlupakan ketika mendapat pujian dan saran dari bang CBS dan juga saat itu Dekan Universitas Paramadina.
Tak hanya upaya untuk mencari ilmu Public Speaking namun saya senang memanfaatkan kesempatan ketika diberikan kepercayaan untuk menjadi seorang MC/presenter ataupun yang berhubungan dengan acara (mengarahkan/menorganisasi). Entah acara yang berskala kecil atau besar saya terima tawarannya. Misalnya yang di foto ini. Saya untuk pertama kalinya menjadi seorang MC wedding. Sebenarnya tawaran untuk menjadi MC wedding sudah semenjak kuliah diberikan kepada saya. Namun baru kali ini saya berani untuk menerima tantangan ini. Karena menurut saya untuk menjadi MC/Host perlu kreativitas dan improvisasi yang lebih tinggi.
Dengan bantuang duet MC, akhirnya saya pun saat itu bisa mengikuti ritme untuk menjadi seorang MC wedding. Juga menjadi MC saat natal alumni fakultas saya yang terganung dalam pelayanan kampus yang bermukim di Jakarta. 
Walaupun skalanya hanya kecil tapi tetap saya manfaatkan karena itu semakin mengasah saya untuk pintar berimprovisasi dalam berbicara di depan orang banyak.
Selang hampir dua tahun pekerjaan yang saya ingini tidak kunjung tiba. Sempat merasa kecewa dan burn out dengan pekerjaan saya yang lama ketika harus mengerjakan jenis pekerjaan kantoran yang sudah menjenuhkan bagi saya. Hingga awal tahun 2010 ketika saya mendapatkan informasi di almamater kursus saya, TYPSS, tentang adanya training dan audisi yang akan diadakan di salah satu universitas di Jakarta. Saya pun pertama iseng mengambil brosur, namun pada saat hari H berhubung saya bisa, jadi saya putuskan untuk ikut. Saat itu saya ikuti seminar bersama Tina Talisa, training untuk menjadi seorang news presenter dan juga sedikit ilmu jurnalistik diajarkan oleh tim TVOne, sampai cara make up oleh tim yang ada. Hingga audisi tiba saat awal Januari 2010, saya pun ikuti. Sungguh memang jalan-jalan Tuhan Yang Maha Kuasa, saya pun terpilih dari tahap dua puluh besar hingga finalist sepuluh besar, yang notabene mendapat kesempatan untuk magang. Saat itu dengan juri seperti yang terlihat di foto ini,langsung presenter yang sudah ternama seperti mba Ratna Dumila
dan Andjrot dari TVOne 
dan juga para producer,presenter dari BinusTV, O-Chanel, dan JakTV.Walaupun memang tidak diberikan kesempatan untuk magang kerja di TVOne, yang saat itu merupakan target saya, namun saya bersyukur saya diberikan kesempatan magang di media yang ternyata merupakan pintu awal karier hidup saya (Faith statement^.^!). 
Saya diberikan kesempatan magang selama 2 bulan lebih di JakTV, untuk memulai dengan profesi awal sebagai reporter. Dalam kurun waktu yang sangat singkat itu saya telah lebih mengetahui ‘dunia nyata’ dari apa yang selama ini saya idam-idamkan. Saya telah turun langsung ke lapangan mencari berita, bertemu dan wawancara langsung dengan narasumber, menghadapi suasana ‘persaingan’ antar sesama teman wartawan, konflik internal bagaimana kerja tim(karena biasanya kerja sendir,,huuhuuu…), kode etik di lapangan yang begitu menyimpang dengan yang ditetapkan, kondisi lapangan yang panas dan kerap kondisi yang mencekam(ga khan terlupa liputan bentrok berdarah di Tanjung Priuk,,hiiii…), juga kondisi di lingkungan kantorpersaingan antar sesama teman, juga hal teknis seperti menulis naskah, editing, dubbing, juga pernah live by phone. Bahkan satu hal yang menjadi memori yang paling unforgetable, saat diberikan kesempatan menjadi presenter pengganti di program sport (Arena Jakarta) di TV kami. Waktu itu taping outdoor untuk pertama kalinya, bahkan menginjakan kaki pertama kalinya di dalam aor mancur bunderan HI,,,hahahaha,,,so switttt*.*….Semua pengalaman berharga itu saya dapatkan dengan kapasitas saya sebagai magang yang tentunya tidak diberikan award dalam bentuk gaji. Namun ketika saya senang melakukan semuanya itu, membuat saya semakin yakin bahwa memang Tuhan telah menunjukan jalanNya di bidang ini bagi saya.
Namun, proses hidup dari Tuhan memang tidak berhenti di situ saja, saya pun harus melewati masa hampir 3 minggu saat masa vakum,jobless setelah masa magang saya habis. Waktu itu sempat goyah lagi jati diri saya, dan sempat ragu ketika saya telah mengetahui fakta yang ada tentang cita-cita saya dan konsekuensi yang harus saya tanggung ketika meraih cita-cita itu dan menjadikannya profesi dari saat sekarang ini. Namun, saya tetap percaya bahwa Tuhan telah membawa saya sejauh ini, tidak mungkin semuanya hanya sebuah kebetulan yang tidak mempunyai arti, dan saya pun meyakinkan diri saya bahwa inilah jalan hidup saya.
Akhirnya resolusi sejak akhir tahun 2008 terjawab sudah. Jalan saya terbuka ketika JakTV memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi karyawan sebagai reporter di media ini.
Saya yakin ini memang sudah kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa. Saya percaya Dia yang akan menuntun jalan hidup karir saya di bidang jurnalis TV ini. Dan saya percaya keterpanggilan hidup saya, sudah saya penuhi dan akan dijalani hingga semakin dekat dengan visi hidup saya, yang menjadi “The Generation of Star that has influence to the World”. Saya pun mempunyai target, dengan menginvestasikan waktu 10 tahun untuk menjadi seorang News Anchor, saya pasti diberkati dengan banyak award. Sehingga visi hidup dibalik ini semua bisa saya penuhi.
God bless us..+.+..

i just wrote this article on 25th May 2010,, dan sekarang setelah 2 tahun menjalani pekerjaan sebagai seorang journalist tv yang sempat berpindah2 ke 3 tv station, artikel ini sangat menguatkan dan memberikan semangat kembali kepada saya untuk tetap running on my passion!!!
wow, ternyata presenter tvOne berjemaat di JPCC. keep it up kak!!!