FINALLY HOME
Desember 2010, akhirnya resolusi sejak tahun 2009 terealisasi sudah. Resolusi untuk tinggal seatap bersama mama.
Sejak kecil keluarga kami tidak pernah tinggal bersama, mungkin hanya beberapa waktu saja, keluarga kami secara lengkap yaitu papa, mama, kakak serta saya tinggal serumah. Memang pernikahan papa dan mama terbilang cukup unik (tapi tidak patut dicontoh), karena menikah hingga kedua kalinya tetapi dengan orang yang sama. Pada pernikahan kedua baru saya lahir sehingga membuat perbedaan usia saya dan kakak terpaut 6 tahun.
Baik kakak maupun saya sejak kecil tidak dekat dengan orang tua kami. Pernikahan mama dan papa awalnya tidak berlangsung lama, sehingga membuat kakak sejak bayi tinggal dan dibesarkan di keluarga opa dan oma. Maka dari itu kakak lebih dekat dengan opa dan oma. Sedangkan saya, setelah papa dan mama menikah kembali dan melahirkan saya, hanya beberapa waktu saja keluarga kami terkumpul bersama. Saya lebih banyak tinggal dengan keluarga di sebelah papa, baik masih kecil maupun saat beranjak dewasa.

Name : My 1st b’day
Location : Grand’pa and Grand’ma home in Manado
Tahun 1985 saya lahir, keluarga kami tinggal bersama di rumah opa dan oma (mama) di Manado. Tak berselang 2 tahun, kami pindah ke jakarta karena mama memilih untuk kembali bekerja di jakarta, sedangkan papa yang adalah kapten (mualim) kapal laut saat itu sudah berhenti. Namun tak lama tinggal di Jakarta, keluarga kami kembali lagi ke Manado, dan tinggal di kampung papa,Kuwil, dengan alasan papa hendak mengurus kebun kelapa warisan dari keluarganya. Tidak bertahan lama, mama akhirnya memutuskan kembali lagi ke Jakarta untuk bekerja, sedang kakak lebih memilih tinggal bersama opa dan oma karena saat itu sedang bersekolah di Manado. Akhirnya saya yang saat itu, berumur sekitar 4 tahun tinggal bersama papa dan oma (sebelah papa) dan keluarga (adik papa) di desa Kuwil, hingga saat papa dipanggil Tuhan, ketika saya berusia 5 tahun.

Name : My 5th b’day with my sista
Location : Grand’pa and Grand’ma home in Manado
Usai papa meninggal, kakak dan saya akhirnya tinggal beberapa bulan di rumah opa dan oma di Manado, hingga mama mengambil kami untuk tinggal di Jakarta. Saat itu saya berumur 6 tahun dan harus mengulang kelas 1 SD saat bersekolah di Jakarta, padahal sejak di Kuwil saya sudah bersekolah. Akhirnya saya mulai bersekolah di Jakarta, namun kebiasaan nomaden memang tidak bisa terlepas karena harus mengikuti ritme kerja mama, yang sering berpindah-pindah tempat kerja. Kakak hanya bertahan 2 tahun tinggal bersama kami dan bersekolah di Jakarta, setelah itu opa datang menjemput dan kembali tinggal di Manado. Sedangkan saya bertahan hingga kelas 4 SD tinggal di Jakarta, saat kenaikan kelas, tante (adik papa) datang dan mengajak tinggal bersama keluarganya di Manado.

Name : My 8th b’day
Location : In Jakarta with mom and sist
Tahun 1995, saya kembali lagi ke Manado dan tinggal bersama keluarga tante. Kakak pun saat itu sempat tinggal beberapa tahun bersama kami. Sejak hari itu kehidupan saya lebih stabil, karena memang sebelumnya hidup nomaden, baik waktu tinggal bersama dengan mama di jakarta maupun sebelumnya seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya.
Saya tinggal bersama keluarga tante sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 5, hingga saya lulus SMA, meski memang saat SMA saya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu bersama mereka karena saya tinggal di asrama sekolah di daerah Tomohon. Kehidupan yang saya jalani bersama keluarga tante memang tidak mudah. Karena secara jasmani mereka bukan orang tua saya. Apalagi saat itu, saat usia pertumbuhan saya, dari masa anak-anak menjadi remaja. Mendapat didikan keras memang tidaklah mudah untuk diterima dan dijalani. Sering saya memberontak dan menyesali hidup, mengapa Tuhan tidak adil bagi saya, tidakkah bisa saya memperoleh keluarga yang sempurna, yang menurut pengertian saya saat itu, hidup harmonis dengan keluarga secara lengkap yang adalah keluarga saya sendiri, layaknya keluarga lain. Namun saya tetap harus tinggal bersama mereka, karena sejak papa meninggal, yang mengurus peninggalan papa (kebun kelapa) adalah tante, dari situlah saya dan kakak selama sekolah dibiayai.
Tak jarang saya lari dari rumah tante saya, apalagi saat kakak memang sudah tidak tinggal bersama dan memilih kos dekat tempat kuliahnya. Saya lebih senang menghabiskan waktu di luar rumah, makanya saya sering mengikuti kegiatan ekskul sejak saya masih SD. Syukurlah memang saat itu pelarian saya adalah hal-hal yang bermanfaat.
Tuhan memang sangat baik, semua yang terjadi dalam hidup saya adalah untuk menyatakan rencana Tuhan atas hidup saya.
Meski tante terlalu otoriter dalam hidup saya, saya menjadi mengenal Tuhan sejak saya tinggal bersama keluarganya. Hidup bersama kakak dan 3 sepupu perempuan dan 1 orang sepupu laki-laki saya yang saat itu mash bayi, membuat saya sedikit mampu melupakan kesedihan saya tentang impian memiliki keluarga sendiri. Setelah semakin saya pikirkan, saya semakin mengucap syukur karena bisa mengenal dan dibentuk di tengah keluarga tante saya, apalagi saya mendapat seorang sosok ayah yang patut diteladani dari om saya yang begitu takut akan Tuhan secara nyata.
Saya teringat kenangan bersama om saya, yang saat ini telah tinggal bersama dengan Bapa di Surga (read article : perjalanan ke Tobelo), kenangan ketika dia memberkati saya saat saya melakukan apa yang disuruhnya. Saat saya ngambek, lari dari rumah dan pergi ke tempat oma karena berantem dengan tante saya, om saya pun yang langsung menjemput dan membujuk saya untuk kembali tinggal bersama dengan keluarga mereka.
Semakin saya pikirkan, sesungguhnya banyak hal yang saya dapatkan ketika tinggal bersama keluarga tante dan om saya. Sejak kecil, karena umur saya berada di tengah, dalam arti, saat itu kakak saya kelas 3 SMA, sepupu saya yang tertua kelas 3 SMP, saya kelas 6 SD, sepupu saya yang kedua kelas 5 SD, dan adiknya kelas 4 SD. Saya berada di peralihan terkadang dikategorikan menjadi anak kecil, kadang juga menjadi remaja seperti kakak-kakak saya. Karena keluarga besar dan banyak anak perempuan, semua tugas rumah pun sudah dibagi dan dijadwalkan. Saya pun jadi tahu memasak, meski tidak ahli, hehe.., saya tidak malu ketika ke pasar, karena terbiasa sejak saat itu. Karena di rumah tidak ada laki-laki sering saya serta sepupu saya yang tengah membantu om saya melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan laki-laki, misalnya membetulkan genteng, mencuci mobil,,hehehe,,lucu deh kalo mo diinge-inget;)
hmmm, tapi akhirnya saat saya lulus sma dan akan masuk perguruan tinggi, beberapa kali cekcok saya dengan tante tidak terselesaikan lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk ngekos. Sekitar setahun saya kos dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman saya, paman saya di sebelah mama membeli rumah dan membuat tempat usaha di dekat kampus saya, saya pun tinggal disana bersama kakak, yang saat itu belum lama kembali dari jakarta setelah sempat kerja disana. Saya pun akhirnya lebih dekat dengan keluarga di sebelah mama saat saya kuliah. Apalagi kakak yang tidak lama tinggal disitu, karena setelah bekerja di papua, kakak menikah dan tinggal menetap disana.
Selain bersama keluarga paman saya (adik mama), saya pun banyak menghabiskan waktu bersama keluarga pacar saya saat itu. Setelah sekitar 3 tahun tinggal disana, akhirnya setelah lulus kuliah, februari 2008 saya kembali ke jakarta dan tinggal bersama mama.

Name : My 21st b’day
Location : In Manado

Name : My 22nd b’day
Location : In Manado
Sejak tahun 1995 berpisah saya akhirnya kembali tinggal bersama mama di Jakarta. Keputusan untuk tinggal dan bekerja di jakarta tidaklah mudah. Banyak alasan yang melatarbelakangi keputusan saya. Terlebih mengingat hubungan saya dengan mama tidaklah berjalan layaknya seperti orang tua dan anak, semakin menjadi alasan terbesar saya untuk tidak mau tinggal menetap di jakarta.
Ketika mama memutuskan untuk hidup sendiri sejak saya dan kakak masih kecil, hal itu secara alamiah telah menjadi kepahitan buat saya. Pernah kami mencoba hidup bersama, seperti yang saya ceritakan saat kami masih kecil, namun hal itu tidak berhasil, baik bagi saya maupun kakak, karena besarnya perbedaan karakter kami. Namun seiring dengan perjalanan saya mengenal Tuhan, saya pun memutuskan untuk mengampuni mama, saat itu dalam sebuah altar call di gereja, saat masa kuliah saya. Meski demikian hal itu ternyata tidak cukup. Tuhan menghendaki saya untuk mengampuni dan mengerjakan pengampunan saya itu. Terbukti saya kembali ke jakarta untuk tinggal menetap di jakarta.
Tiga bulan pertama saat saya datang ke Jakarta tahun 2008, saya tinggal bersama mama. Namun hal itu tidak berhasil, meski saya imani saya telah mengampuni mama, namun perbedaan karakter terlalu besar antara kami berdua, karena memang saya tidak hidup bersama mama terlalu lama. Saya pun memutuskan ngekos dekat kantor sejak saat itu. Namun lagi-lagi Tuhan tak menyerah, Tuhan semakin membentuk saya dengan pengajaran di gereja, saya pun semakin sadar meski saya terus dibukakan Tuhan dalam pekerjaan dan hal lainnya, namun ada hal yang kurang dalam diri saya, yah, hal itu adalah hubungan saya dengan mama. Sejak ngekos, hubungan saya degan mama hanya sebatas uang, setiap bulan kewajiban saya memberi mama uang, tanpa perlu disertai dengan diri saya. Memang beberapa kali saya menginap di tempat mama (rumah kontrakan), namun hal itu tidak sering karena memang setiap bertemu mama, ujung-ujungnya adalah pertengkaran. Saat itu, saya selalu berpikir tindakan saya telah benar, masih untung saya memberi uang bulanan pada mama, mengingat seumur hidup saya hampir tidak pernah dibiayai oleh mama. Pengampunan saya, saya pikir cukup, imbalan dalam bentuk uang pun cukup. Namun begitu kerasnya Tuhan menegur saya, saya sadar bahwa semua yang telah saya beri belum cukup, makanya saya rasa meski saya telah diberikan visi hidup yang besar, namun secara lengkap Tuhan belum menyatakannya kepada saya karena masih ada hal yang cacat dalam hidup saya.

Name : My 23rd b’day
Location : In Jakarta
Sejak akhir 2008, saya pun memutuskan resolusi di tahun 2009 saya adalah tinggal bersama mama. Namun lagi-lagi, hal itu belum mampu terealisasi karena malah hubungan saya dengan mama saya semakin memburuk. Sering bahkan saya share ke DATE tentang hubungan saya dengan mama disertai dengan tangisan, padahal ketia sharing hal lainnya, saya menceritakan dengan antusias.
Namun rencana Tuhan jauh melebihi rencana saya. Akhirnya desember tahun 2010, setelah resolusi 2 tahun berturut-turut, mama dan saya akhirnya bisa tinggal bersama. Tuhan buka jalan ketika apartemen yang dibeli kakak telah selesai dibangun, kami tinggal bersama, meski untuk menempati tempat ini pun tidak mudah.
Meski perbedaan karakter mama dan saya masih begitu besar, namun ketika Tuhan menaruh keinginan di hati saya untuk mengubah hidup keluarga kami, semuanya bisa teratasi. Saat ini 3 bulan sudah kami tinggal seatap kembali, dan Tuhan terus bekerja dalam hidup kami. Mama semakin mengerti akan saya, dan saya pun semakin terus belajar memahami mama.

Name : My 24th b’day
Location : In Jakarta
Meski jauh sebelumnya dalam doa saya, saya mengingini tinggal bersama keluarga saya secara lengkap yaitu, papa, mama, kakak dan saya, namun ketika di rumah ini saya bisa tinggal as one family with my mom, it’s more than enough. Saya akhirnya bisa memiliki ‘rumah’, sehingga saya percayai ketika saya telah memperbaiki hubungan keluarga ini, maka sebenarnya Tuhan pun telah membuat saya siap untuk membuat ‘rumah’ saya sendiri, sesuai dengan waktuNya.
Thankyou to my God, He always awesome!!!