PART ONE
“Dream like u never dreaming”
“Sebuah rumah panggung yang terletak di dataran tinggi dengan nuansa suasana pedesaan. Udara yang masih segar dan sejuk bahkan relatif dingin karena berada di tengah perkebunan. Rumah panggung itu bertingkat dua namun ada atap di tingkat tiga khusus ruangan doa yang atapnya bergenteng transparan hingga di malam hari pemandangan langit yang diterangi bulan dan bintang bisa terlihat dari sana. Perkebunan dan taman bunga mengitari rumah panggung utama tersebut. Taman beragam jenis bunga terdapat di bagian halaman depan, sedangkan perkebunan sayur mayur, seperti kol, wortel, labuh, tomat ada di bagian belakang rumah itu, tidak lupa rumah kaca tempat tanaman khusus yang dibudidayakan berada di samping perkebunan itu. Peternakan ikan di waduk dan ternak ayam juga ada di bagian belakang perkebunan itu. Di halaman belakang rumah panggung utama yang lantai dasarnya berbeton dan lantai duanya dari papan itu, terdapat kolam renang, lapangan bola kaki, lapangan basket dan lapangan kosong yang luas sekali dan masih berlantaikan tanah. Selain itu,rumah-rumah yang serupa dengan rumah panggung utama tersebut namun berukuran lebih kecil, terhampar di perbukitan di bagian belakangnya.Tidak jauh dari rumah utama itu juga, ada sebuah aula yang besar sebagai ruangan serba guna yang didesain terpetak-petak, namun tetap memiliki aula utama yang besar, sedangkan disamping aula itu terdapat studio yang berisi berbagai jenis peralatan musik. Juga ada bangunan pabrik kecil tempat kerajinan tangan dibuat namun dengan menggunakan mesin yang lebih sederhana. Di paling belakang tanah seluas “berhektar-hektar” itu;D, terdapat tempat penampungan dan pengolahan kopra (kelapa) yang nantinya akan dipasok ke pabrik yang lain”.
Well, kurang lebih seperti itulah gambaran rumah yang akan saya miliki kurang lebih dua puluh tahun dari sekarang. Rumah itu merupakan wisma yang menampung anak-anak yang ditakdirkan untuk memulai kehidupan dari NOL. Yang saya maksudkan dengan kehidupan dari nol yaitu kehidupan anak-anak yang tidak memiliki orang tua, atau orangtuanya memutuskan untuk tidak mengurus mereka, ataupun mereka hidup bersama orang tua namun mereka sangat berkekurangan dalam segala hal, namun dari semua kategori itu yang terpenting mereka mau hidupnya berubah meski harus dengan cara yang tidak senyaman yang ditawarkan para penampungan yatim piatu,misalnya, di tahun-tahun belakangan ini. Mengapa saya katakan ‘tidak senyaman’ atau dengan kata lain berbeda dengan tempat penampungan yatim piatu yang saat ini banyak dijumpai dimana saja, karena saya melihat hal ini oleh sebagian orang telah dijadikan semacam ‘bussiness sosial’ hingga bukan dengan hati yang murni lagi untuk menampung dan menolong anak-anak terlantar, namun dijadikan tempat untuk mencari keuntungan bagi pihak pengelolanya. Saya mengatakan hal ini bukan berarti mencela tindakan pemberian penampungan yatim piatu, namun yang saya dapati dalam kenyataannya tidak sedikit yang melakukan hal yang saya maksudkan diatas. Selain itu, saya pun sedikit tidak setuju dengan mekanisme ‘tempat penampungan’ saja yang mengharapkan bantuan dari pihak luar, seolah-olah anak-anak sedari dini diajarkan untuk menjadi peminta dan bukan pengolah apa yang bisa diberikan kepada mereka sebagai modal awal. Meskipun demikian tempat anak yatim piatu yang sudah meninggalkan mekanisme lama dan beralih lebih kepada tempat penampungan anak yang kurang mampu untuk belajar, juga sudah ada di negara kita, meski jarang untuk dijumpai.
Saya mempunyai mimpi untuk membuat Rumah layaknya sebuah rumah yang dimiliki setiap anak lainnya yang hidupnya normal. Maksud saya dengan rumah anak yang hidupnya normal yaitu rumah yang diisi dengan ayah, ibu, kakak serta adik. Mungkin memang tidak dalam jumlah skala yang besar, namun rumah-rumah kecil yang terhampar di perbukitan itu cukup untuk menampung anak-anak yang hidupnya akan diubahkan secara luar biasa itu. Ayah dan ibunya pun merupakan pasangan suami-istri yang bekerja di pabrik yang ada di lahan yang luasnya berhektar-hektar tersebut, yang sebelumnya mereka telah terseleksi untuk menjadi orang tua asuh dan memang memiliki hati dan kerinduan yang tulus untuk memberikan kasih sayang dalam membesarkan anak-anak itu.
Dalam kesehariannya para keluarga itu tinggal bersama dan mengerjakan aktivitas bersama, termasuk para anak-anak. Sementara para orang tua bekerja di pabrik kerajinan tangan itu, anak-anak yang dibagi hingga wajib belajar 9 tahun, belajar di ruangan aula yang sudah terpetak-petak tersebut. Selain belajar, anak-anak sejak kecil sudah diarahkan apa yang menjadi bakat dan minatnya lewat fasilitas yang ada. Misalnya anak-anak yang gemar musik diberikan pelatihan khusus di studio dengan perlengkapan yang ada, hingga bisa belajar musik, tari, menyanyi,atau kegiatan kesenian yang lain. Hal lainnya, seperti anak-anak yang senang bereksperimen dengan alam, ada rumah kaca tempat bagi anak-anak yang senang belajar biotanical lewat pembudidayaan tanaman atau sejenisnya. Anak-anak yang senang dengan mengotak-atik mesin pun bisa belajar di bengkel yang ada di pabrik,untuk belajar teknik pengoperasian mesin namun dalam skala pengetahuan awal belajar anak. Sarana olahraga yang ada pun bisa menumbuhkan bakat mereka untuk menjadi seorang atlet nantinya. Selain itu sarana olahraga dan hiburan yang tersedia juga menjadi tempat mereka menghabiskan waktu untuk menikmati kesenangan masa kecil mereka. Selain belajar dan bermain, para anak-anak ini pun membantu orang tua mereka baik itu di pabrik(home industri) dengan membuat kerajinan tangan atau sejenisnya, juga bekerja di perkebunan untuk bercocok tanam atau panen hasil buah atau membudidayakan taman yang ada di lahan itu dan mengolah ternak yang ada untuk kebutuhan hidup mereka tiap keluarga. Setiap hari minggu mereka pun dengan keluarga besarnya masing-masing datang mengucap syukur kepada Tuhan lewat beribadah bersama di rumah panggung utama yang berada di bagian depan.
Tenaga kerja yang dipakai dalam pengelolaan Rumah Impian saya ini merupakan tenaga pekerja juga volunteer yang sudah terseleksi. Baik dalam pengelolaan perkebunan yang hasil panennya dijual, juga pengelolaan kerajinan tangan yang dihasilkan, pengelolaan kopra yang merupakan pemasukan terbesar biaya pengelolaan keseluruhan menggunakan pekerja yang diberi salary, namun pengajar di sekolah dan pelatih olahraga maupun kesenian merupakan trainer yang merupakan volunteer yang mau berbagi waktu dan keahliannya kepada anak-anak generasi penerus bangsa ini.
Mekanisme pengelolaannya pun mengambil analogi multiplikasi benih. Tugas saya hanya memberi benih atau modal awal, baik berupa pengetahuan/skill dan materi, selanjutnya mereka yang mengusahakannya menjadi berlipat kali ganda. Dalam hal ini,misalnya para pasangan suami-istri, yang mungkin juga memiliki anak kandung, diberikan waktu selama beberapa tahun bekerja hingga saat mereka telah siap (telah memiliki keahlian dan materi/ modal awal) mereka dilepas kembali memiliki kehidupan sendiri bersama keluarga mereka. Begitu pula para anak-anak, setelah mendapat pengetahuan dan menemukan visi hidup mereka, mereka pun siap dilepas ke kehidupan nyata di luar rumah itu, untuk mengusahakan kehidupan mereka sendiri dengan modal awal, yaitu pengetahuan/ketrampilan juga materi yang telah mereka kumpulkan.
Begitulah kurang lebih perincian mimpi saya, “Dari mereka dan untuk mereka”, kira-kira begitulah bunyi motto nantinya. Tugas saya hanya memberikan benih, namun kehidupan sesunguhnya ada di tangan mereka untuk dikerjakan.
PART TWO
“The Seeder”
Saya melihat mimpi ini dalam hidup saya ketika saya menoleh sesaat kebelakang. Saya tahu keberadaan saya saat ini merupakan hasil rangkaian kehidupan yang telah berhasil saya lewati di masa lalu. Masa kecil dalam kehidupan saya seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, tidak tumbuh bersama orang tua dan keluarga kandung saya, namun lebih menghabiskan waktu pertumbuhan saya itu dengan keluarga bibi dan paman saya. Di usia 10 hingga 18 tahun secara tetap saya menghabiskan waktu pertumbuhan anak-anak beranjak remaja itu dalam pengawasan dan bimbingan keluarga bibi dan paman saya. Saat menjalani masa itu memang sangat berat, namun ketika masa dewasa telah saya jalani, saya bersyukur buat setiap pembentukan karakter oleh kedua orang tua yang telah saya anggap orang tua kandung saya itu. Memang didikan yang keras saat muda tidak dapat dimengerti oleh anak-anak, namun cara itu memang berhasil membentuk saya dengan kepribadian yang saya miliki saat ini. Hal inilah yang menjadi alasan utama saya mengapa saya memiliki kerinduan untuk membentuk karakter anak sejak kecil meski dengan cara yang mungkin saat mereka jalani tidak terasa nyaman, karena saya percaya saat dewasa menghampiri mereka, mereka tahu bahwa sesungguhnya ajaran yang mereka terima itu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap mereka.
Mimpi saya untuk memberikan wadah bagi anak-anak untuk mendapatkan pengajaran yang benar dan juga berguna bagi masa depan mereka,berdasarkan pengalaman saya ini, saya lengkapi juga dengan kebutuhan yang harus dimiliki anak-anak yaitu berupa kasih sayang dari figur ayah dan ibu lewat orang tua asuh yang mereka dapatkan. Selain didikan dan kasih sayang orang tua, saya mempunyai mimpi anak-anak itu menemukan bakat mereka sejak dini sehingga lebih cepat diasah dan menjadi produktif dalam mereka mencapai visi hidup mereka.
Anak menjadi isu utama dalam mimpi saya ini karena saya tahu dimasa pertumbuhan anak beranjak remaja sangat menentukan arah jalan hidup mereka kelak. Hingga bagi saya perlu untuk menginvestasikan hal-hal yang baik agar kehidupan di dunia ini semakin baik dengan adanya generasi muda yang telah diperlengkapi hingga siap menyonsong masa mendatang.
Saya percaya mimpi ini bukan merupakan mimpi kebetulan lewat. Sebagai visi hidup yang telah saya dapati sekitar 2 tahun lalu ini, saya percaya Tuhan telah rancangkan semenjak saya pun belum diciptakan kedunia ini. Terbukti dengan beberapa hal yang saya sadari bahwa rangkaian kehidupan saya saling berkaitan. Misalnya saja, kesenangan berorganisasi yang sejak kecil telah saya rasakan. Kegiatan-kegiatan itu membentuk kepribadian saya menjadi jiwa sosialis, contohnya kegiatan PMR yang saya ikuti sejak SMP yang banyak berkaitan dengan isu kemanusiaan, pelayanan siswa dan OSIS yang banyak melakukan kunjungan sosial entah itu ke rumah yatim piatu, panti jompo, orang-orang susah, yang sangat sering kami lakukan saat itu, saat saya duduk di bangku SMP hingga kuliah. Tak hanya itu jiwa nasionalis saya juga semakin terlihat ketika saya seorang graduated economy bekerja di NGO’s yang rentan dengan isu nasional-sosialis, meski saya bertugas sebagai econom saat itu. Hal-hal semacam inilah yang saya rasakan saat menengok kebelakang saat itu dan berhasil menyadari bahwa saya memang dibutuhkan banyak orang, lewat jalan hidup yang saya telah jalani, saya mengetahui dan bahkan telah merasakan apa yang sementara anak-anak itu rasakan, hingga diri saya terpanggil untuk memperbaiki apa yang perlu diperbaiki dalam kehidupan mereka.
Setelah mendapati mimpi atau visi yang saya percaya dari Tuhan yang menciptakan saya, saya pun mulai mengerjakan dengan membuat resolusi hidup (seperti yang telah saya ceritakan juga di page:my passion). Resolusi pekerjaan yang berkaitan dengan mimpi besar saya ini pun saya buat dan puji Tuhan saat ini telah saya jalani. Menjadi seorang jurnalist tv yang juga sering terjun dalam isu humanist-sosialist, semakin membuat saya percaya bahwa saya berada di jalur hidup yang benar. Passion untuk menjadi seorang news anchor yang dikenal oleh semua orang pun semakin menjadi-jadi dalam hidup saya ini. Bukan untuk menjadi terkenal dan menguntungkan diri sendiri, namun lebih kepada dikenal dan memiliki power dan pengaruh untuk kepentingan orang banyak itulah tujuan saya. Saya percaya ketika para pemilik modal /pengusaha, penyandang dana / international NGO’s juga pemerintah sang pembuat kebijakan, mengenal dan mengetahui diri saya, maka semakin mudah bagi saya untu membelokan perhatian mereka untuk membuat mimpi saya berhasil. Semata-mata bukan untuk memuaskan ego saya memberhasilkan keinginan mimpi saya, namun lebih dari itu, mereka dapat melihat bahwa pentingnya menaruh perhatian kepada generasi penerus bangsa ini.
Tiap-tiap orang diberikan talenta yang berkaitan dengan visi hidupnya sendiri. Saya percaya mimpi yang saya lihat ini sesuai dengan talenta yang saya miliki dan terus bereksplorasi lewat tiap passion yang lahir dari dalam diri saya, sehingga visi hidup saya pun semakin jelas terlihat dan menanti saatnya untuk diraih. Saya percaya semuanya ini lahir dari Tuhan, sang pemberi kehidupan. MenyenangkanNya adalah kesukaan hidup saya. Hidup untuk menghidupi orang lain, itulah visi hidup saya…
be blessed,
ollen ester
note :
dream comes : around 2002
dream becomes vision : 2008
vision written : 10 Jully 2010
vision become reality : ……..